ROADTRIP BALI - JAKARTA DAY 2,5: Pertemuan Warga
Hari sebelum Play With Stranger edisi Malang.
Episode sebelumnya: ROADTRIP BALI - JAKARTA DAY 2: Tumpak Sewu!
__
Sorenya, setelah kembali ke penginapan untuk mandi dan terkantuk-kantuk, gue datang ke Gartenhaus Co Working Space.
Tempatnya seperti rumah orang kaya yang lama tidak terpakai. Di bagian depan ada satu bangunan berisi tumpukan kayu dan vespa. Ke bagian dalam, ada beberapa bangunan dari kayu dan bangku yang diletakkan di luar. Semakin ke dalam, ada satu kolam renang yang menjadi focal point. Dipenuhi berbagai tanaman yang membuat suasananya menjadi asri.
“Bang!” panggil satu cowok berkumis dengan rambut belah tengah. Belakangan gue tahu namanya Fikri. Tanpa gue tanya lebih dulu, dia bilang, “Belum ada yang datang, nih.”
Setelah memesan dan memilih duduk di satu meja kayu besar, kami berkenalan. Fikri adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Teknik Pertanian UGM. Saat ini memang sedang libur kuliah, dan dia memutuskan untuk solo traveling ke Malang. Dia cerita soal kekhawatirannya tentang pertanian di Indonesia. Tentang mengapa dulu swasembada pangan, sampai masa depan di industri ini. Dia punya ketakutan bahwa industri ini di masa depan tidak berjalan semestinya karena image bekerja sebagai petani tuh tidak keren.
“Siapa yang mau ngurusin nanti? Padahal potensi kita gede banget, kan, Bang.”
Mendengar cerita Fikri, gue malah kagum sendiri. Dia udah bisa berpikir sejauh itu di masa-masa semester tiga. Ketika awal kuliah gue dahulu, boro-boro mikirin masa depan bangsa. Yang ada cuma gimana bisa numpang wifi kampus buat numpang download Big Bang Theory. Hehehe.
Di tengah cerita, kami kedatangan Ivy.
Perempuan berambut kuncir, yang, gue gabisa jelasin, tetapi mempunyai aura outdoor. Seperti perempuan yang tidak neko-neko dalam memilih dandanan. Belakangan gue tahu kalau dia anak semester tiga mahasiswa UMM. Ivy lah orang yang DM gue untuk bikin Play wIth Stranger ini.
Nggak lama kami ngobrol, muncul dua orang lain: Azmi dan Bagas.
Azmi adalah anak vespa. Tinggi, pendiam, dan sesekali ikut tertawa. Dia datang jauh-jauh dari Pasuruan ke sini karena besok tidak bisa join petualangan kami. Sewaktu berbicara, suaranya pelan sekali. Berkebalikan Azmi yang asli jawa, Bagas adalah anak Jakarta. Bekerja sambilan sebagai barista dan tampilannya… sangat gaul. Wajahnya penuh tindikan dan anting, dengan jaket denim biru muda. Tetapi kejakartaannya langsung luntur bicara bicara. Seperti Azmi, Bagas bicara dengan lemah lembut. Sudah tidak ngomong “gue - elo” dan menggantinya jadi “aku - sampean”. Dia kami juluki “Anak CEO” karena di antara kami, dia yang paling tahu detail coffeeshop ini.
“Kalau toilet di belakang sana. Pintunya nanti geser aja,” katanya dengan cool. “Mau liat kucing nggak? Atau ayam?”
Entah kenapa dari toilet nyambung ke ayam. Kami jadi ngakak.
Setelah kami ngakak, dia lanjut lagi, “...kalau kelinci di dekat kolam renang, Bang.”
Dia berhehehe dengan bangga. Kami cuma iye, atur, Gas. Atur.
Meja sudah berisi piring dan tisu dan gelas-gelas kosong. Setelah diskusi, kami sepakat untuk pergi ke Coban Sanusi besok pagi. Katanya, yang seru dari air terjun ini adalah kita akan trekking melewati tiga sungai.
Masalahnya… ada satu orang yang belum datang.
Elsa.
Di grup Whatsapp, dia bilang kalau sudah berangkat sejak lima belas menit lalu. Ini bikin kami galau. Kalau kita pulang dan tinggalin, yang ada dia nangis. Kalau kami tunggu dia datang, lalu kami pulang, emangnya kami becandaan Lapor Pak.
Akhirnya kami mutusin untuk pindah.
“Di Malang ada tempat yang bisa ngeliat city light gitu gak?” tanya gue.
“Ada, sih, Bang. Tapi di Batu setauku,” jawab Bagas.
“Pas, tuh. Sekalian gue arah pulang!” balas Fikri.
“Ah! Aku ada tempat bagus!” Ivy lagi-lagi memberi usul. “Kita ke Paralayang aja! Tapi aku nggak tahu jalan ke sananya. Nanti aku ajak temenku aja gimana?”
“Gas!” semua sepakat.
Yang kami nggak tahu, Elsa sedang dalam perjalanan ke sini… dari Batu.
__
Gue nggak pernah merasa semenggigil ini sebelumnya. Angin sedang kencang-kencangnya ketika kami sampai di Paralayang pukul sepuluh malam. Bayangkan. Ditambah temannya Ivy, inilah kami. Tujuh orang asing. Duduk gemetar kedinginan di pinggir tebing. Menyaksikan keindahan lampu kota Batu dari atas sini.
“Ini kayaknya bakal lebih seru kalau… ADA TEH PANAS gasih?” gue membuka bercandaan.
“Teh panas tapi kalo di sini kayaknya cuma lima menit langsung dingin deh!” Suara cempreng Elsa membalas.
Tiba-tiba Bagas nyaut, “Sampean mau teh? Di warung belakang ada yang jual tuh…”
Hening.
Kami bicara dan tertawa dan meledek dan mengkhawatirkan satu sama lain malam itu. Ada cerita tentang kehidupan kampus. Ada cerita tentang petualangan gue. Ada cerita tentang orang-orang yang mencari tempat tinggal barunya. Ada cerita tentang keluarga. Kami tidak pernah tahu kenapa semudah itu kami bisa terbuka satu sama lain, tapi pasti ada alasannya.
Pasti ada alasannya kami dipertemukan.
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Gue abis merekap petualangan based on kota-kota yang gue datangi. Seru juga ternyata foto-fotonya hehehe. Gue jadi bersyukur banget dengan apa yang gue dapat di lima tahun belakangan ini.
Potong rambut! Wakakaka. Entah kesambet apa, lagi sepedaan tiba-tiba belok ke tukang potong rambut. Tumben banget deh padahal biasanya gue selalu takut ke tukang potong rambut.
Sepedaan ke setu di dekat rumah. Di bawah jalan tol. Bagus pemandangannya, tapi sayang banget banyak sampaaaahhh. 😭😭
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
Hari ini katanya di rumah gue bakal ada pemadaman listrik dari jam satu sampai empat sore. Kerja di mana yaaa puasa-puasa gini haduuuhhh. The perks of laptop harus nyolok nih. 😭
📸 Foto-foto Belakangan Ini:








