DAY 2 ROADTRIP BALI - JAKARTA: TUMPAK SEWU!
Tumpak Sewu indah banget.
__
Grup Whatsapp Play with Stranger edisi Malang udah dibentuk dari semalam, tetapi kami masih belum tahu mau ke mana dan jadwal mainnya.
Pada awalnya, gue berniat mengajak untuk ke Tumpak Sewu, sebuah air terjun gede yang berada di Lumajang. Tapi, setelah grupnya dibentuk, diskusinya berubah.
“Jauh banget,” kata yang satu.
“Lagi musim hujan nggak sih? Kayaknya bahaya kalau ke air terjun…”
Melihat perbincangannya, gue yakin tujuannya bakal berubah. Tetapi dari semalam kami masih belum sepakat. Ada dua ide yang berkembang, yaitu 1) Ranu Regulo, dan 2) Coban Srikandi.
Berhubung masih pada galau, gue bilang untuk “Nanti sore kita ketemuan aja kali ya?” Gue ngomong gitu biar nggak terlalu kepikiran, dan bisa fokus sama petualangan gue sendiri.
Tapi… hari ini ke mana ya?
Gue udah berkeliling tempat menginap untuk mencari sarapan, tapi warung-warung masih pada tutup. Dan di tengah-tengah mencari sarapan, gue mendapat semacam bisikan, “Gas ke Tumpak Sewu ga sih?”
Sekarang pukul tujuh pagi. Kalau berangkat ke Tumpak Sewu sekarang, kemungkinan sampai pukul 9. Belum trekking turunnya, belum itunya, belum ininya…
Gue kembali ke penginapan, mandi, lalu berangkat.
Salah satu alasan gue datang ke Malang memang untuk ini, dan gue tidak menyesal.
Gue parkir di titik Tumpak Sewu via Lumajang. Dari tempat parkir, gue bisa melihat kemegahan air terjun yang gede banget ini. Tebing setengah melingkar, dikelilingi pepohonan, dan air yang turun di segala sisinya. Di tengah air terjun, samar-samar terlihat pelangi yang melingkar.
Gue diam. Lama. Takjub dengan apa yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri.
Nyengir.
Keajaiban dunia apa ini?
Lalu gue berjalan turun, mengikuti jalan setapak yang terbuat dari paving block dan mengarah ke loket pintu masuk yang lain. Di loket ini, banyak orang luar negeri yang memotret air terjun, juga warung yang menyediakan makanan. Beberapa laki-laki tanpa baju duduk di pinggir warung memegang kelapa. Di warung lain, ada beberapa perempuan asia berbikini, berbicara dengan bahasa yang tidak gue mengerti.
Dari sini gue mulai trekking turun. Treknya bagus, tetapi ia berubah-ubah. Terkadang bentuknya tangga besi, terkadang tanah yang berbatu, terkadang kita melewati satu jalur air. Beberapa orang di depan gue melepas sepatunya untuk menuruni treknya.
Di bagian paling bawah, ada dataran yang berisi warung-warung, tempat penjaga mengecek tiket, dan dua ayunan di pojokan. Berhubung gue pengin die, gue istirahat sebentar. Membeli air di salah satu warung, mengobrol tentang kondisi akhir-akhir ini.
Kata mas penjualnya, cuaca belakangan ini panas. Hujan mulai turun sekitar pukul dua atau tiga sore. Berbeda dengan saat gue di kota Malang, yang dari pagi udah hujan melulu. Dia bertanya gue dari mana, dan gue menjelaskan tentang petualangan pulang ini. Gue bertanya tentang gimana caranya membawa dagangannya dari atas dan dia hanya tertawa saja.
“Ini di depan tinggal ke kanan, lalu jalan lurus udah sampai kok, Mas.”
Gue menitipkan air mineral yang gue beli, lalu berjalan mengikuti instruksinya.
Setelah melewati jalanan belakang warung ini, kita berada di bawah tebing. Pasti ini sisi lain dari yang gue lihat saat di atas tadi. Jalanannya lebar, berbatu, dan becek. Di tengah jalan ini, mengalir sungai kecil yang entah ke mana. Gue menyusurinya sampai ke ujung, dan di depan sana, setelah satu belokan ke kiri dan menyeberangi satu aliran air lagi, kita sampai di muka air terjun.
Di sini, seluruh badan gue udah basah. Percikan uap air yang begitu deras beterbangan di seluruh udara. Rambut gue lepek, dan gue tidak tahu caranya mengeluarkan kamera untuk mengabadikannya. Ada banyak orang yang menaiki batu-batu di depan, menghampiri air terjun, atau berfoto dengan dandanan masing-masing. Ada perempuan berbikini yang bergaya, ada seseorang dengan style jagoan jepang yang mengingatkan gue dengan Lara Croft di Tomb Raider, ada pasangan yang mencoba selfie.
Gue yakin pada saat itu, tampilan gue kayak orgil yang baru disiram warga. Rambut lepek, sekujur tubuh basah, ransel gue lembab, celana dan kaos gue coklat terkena percikan lumpur di sana-sini.
Tapi gue happy.
Gue berjalan mendekati air terjun. Menghadap ke atas. Dari sini pelangi tidak terlihat. Yang ada hanya uap air yang beterbangan. Gue seperti berada di planet lain, dan perasaan aneh ini, di antara wisatawan dari berbagai negara, membuat gue tidak peduli dengan apa yang ada di sekitar. Gue hanya tersenyum lebar, dan membiarkan diri gue basah. Gue merasa kecil.
Gue tersenyum dan membiarkan diri gue basah. Dengan jantung yang berdetak cepat.
__
Sebelum kembali, gue berusaha mendokumentasikan perasaan ini. Tapi sepertinya tidak ada gambar-gambar yang bagus. Kamera gue keburu basah begitu gue keluarkan dari ransel. Akhirnya gue hanya menatap air terjunnya beberapa kali lagi, berharap ingatan gue bisa tersimpan dengan lebih baik.
“Dari mana, Mas?” tanya laki-laki berkemeja putih tiba-tiba.
Dan kami berbicara. Namanya Ismail, dia tour guide yang sedang mengantarkan beberapa tamunya. Setelah ini dia akan lanjut ke air terjun Kapas Biru.
“Basah-basahan gini, Mas?”
Dia cuma ketawa aja. Di tengah cerita, sesekali Ismail menatap ke bagian atas air terjun, entah memikirkan apa.
Karena penasaran, gue tanya, “Kalo tour guide dan ke sini terus, bosan nggak, Mas?”
“Nggak. Nggak bosan. Walaupun tempatnya sama, tapi setiap ke sini pasti ada aja yang beda. Kadang ada cerita dari orang yang saya antar, kadang cuacanya beda. Jadi sejauh ini belum pernah bosan sih, Mas. Hehehe.”
Entah kenapa jawaban Ismail mengingatkan gue dengan Nenyo, fotografer trip sewaktu gue ke Bromo beberapa tahun lalu. Pada saat itu, sama seperti sekarang, gue kepikiran… iya, sih, Bromo bagusnya kebangetan, tapi kalau tiap hari di sini, selama bertahun-tahun, apa nggak bosen? Apa Nenyo gak kepengin ngeliat tempat lain kayak Negara Blok M gitu?
Tapi, jawaban dia sama dengan Ismail. Dia tidak bosan, bahkan sekalipun. Malas sewaktu ingin berangkat ada, tetapi begitu gunung Bromo ada di depan mata, semuanya hilang.
Ismail juga begitu.
Mungkin, gue juga perlu belajar cara melihat seperti mereka memandang tempat-tempat ini.
Selesai mengobrol, gue kembali ke warung tempat menitipkan air mineral. Berisitrahat sebentar, lalu trekking ke atas. Membeli sebuah kepala, menghabiskannya, dan kembali ke Malang.
Sore ini gue harus ketemu temen-temen untuk bikin Play with Stranger.
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Open Mic di acara Hall of Storytellers. Seru abis!
Sepedaan sampai ke Bintaro sampai badan rasanya mau mampos.
Ketemu beberapa temen lama.
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
Ternyata selama ini bercandaan orang Jakarta umurnya abis di jalan itu bener ya? Gue selama ini cuma nganggep jokes aja, tapi begitu kemarin ke acara Hall of Storytellers dan ngitung, ternyata beneran bikin die. Acaranya berlangsung dari pukul 3 sore sampai 6 sore. Tapi gue berangkat dari rumah pukul 12 siang, dan sampai rumah lagi pukul setengah 11 malem. Buset daah.
📸 Foto-foto Belakangan Ini:

















keren banget air terjunnya