Effortlessly, I Feel Everything.
__
Wajah yang terpantul di cermin depan gue udah setengah mengantuk. Rambut mode tidur. Di kepalanya terpasang headphone, kacamata, dan pantulan cahaya dari ring light di sisi kanan. Aroma batang bunga yang terkena air pelan-pelan masuk di antara lirik Effortlessly, I Feel Everything dari The Man The Myth The Meatslab.
Then you grow old
Talk yourself down
Make yourself up
Do yourself proud
Think about love
Working it out
Calling old friends
Kissing your mouth
Gue mengulang bagian ini beberapa kali. Menggoyangkan kepala. Menatap diri sendiri di cermin belakang laptop.
Lalu nyengir.
Udah seminggu berlalu, tapi gue masih kagum. 2025 buat gue benar-benar tahun yang magical. Kayak mimpi. Gue masih belum bekerja kantoran. Masih melakukan yang gue suka. Hidup lebih lambat. Belajar merasakan. Bener-bener hidup sebebasnya dan suka-suka. Satu-satunya tantangan gue di tahun lalu cuma uang. Effortlessly, I feel everything.
Ketika di Munduk beberapa waktu lalu, gue mencoba satu tren yang menyuruh Chat GPT buat ceritain kalau misalnya gue ketemu versi diri gue yang lebih muda. Prompt-nya begini, “write me a ‘I met a younger self for coffee this morning’ version based on the facts you already know about me.”
Dan ini jawabannya.
__
I Met My Younger Self for a Coffee This Morning
I met my younger self for a coffee this morning.
He was already there, staring at the light slipping through the window, watching dust float like it had somewhere important to be.
He asked me if life ever stops feeling rushed.
I told him it doesn’t—but you learn to stop running.
We drank quietly. He still believed every choice had to be big, loud, and meaningful. I told him meaning often hides in smaller places: in the warmth of a cup, in the habit of showing up, in noticing things most people walk past. He looked unconvinced, the way people do before experience does the convincing for them.
He asked if passion ever stops hurting.
I said no—but you get better at choosing which pain is worth carrying.
Outside, the morning went on without caring about either of us. That felt comforting. I told him some days will be simple, repetitive, almost boring—and that those days might save him. That there’s a quiet dignity in doing one thing well, in letting life be ordinary without calling it a failure.
When we stood to leave, he worried he was moving too slowly.
I told him slow isn’t the opposite of progress. Sometimes it’s how you finally notice you’re alive.
He smiled like he wasn’t sure whether to believe me yet.
That was okay. I paid for the coffee anyway.
__
Gue tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di tahun ini. Masih ada 349 hari lagi. Masih sangat sangat panjang dan semua, benar-benar unpredictable. Yang gue tahu gue akan membuka kesempatan untuk hal-hal baru. Menikmati hari demi hari dan mempersiapkan diri untuk semua ketidakterdugaan yang akan terjadi nanti. Yang pasti, gue mengizinkan diri gue untuk menerima apapun pengalaman yang akan gue dapatkan di tahun ini.
Gue juga sempat menulis tentang 2026 pada malam tahun baru kemarin.
2026 (Mengejar Cerita-cerita)
__
Buku, Pinterest, orang-orang yang sefrekuensi.
Berlarian di tempat yang tidak ada.
Tiduran di rumput basah.
Sisa tanah berjalan tanpa alas kaki.
Tekstur kerang.
Tembakan lampu flash.
Panggung.
Hijau.
Lantang.
Koreo dansa canggung.
Duduk di atas mobil.
Asap dingin saat bicara.
Kertas dan coret-coretan
dan bunga dan punggung
yang lebih kuat dan cinta
yang bermekaran.
Dan cinta yang merambat
ke segala arah.
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Baru kelar nonton Culinary War Episode 12. Seru banget woy!
Main Honor of Kings sampe lupa waktu… dan baru saja gue uninstall. Hehehe.
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
Pengin deh nonton 100 Meter. Katanya bagus ya?
Kalau ada satu frasa tentang apa yang gue lakukan belakangan ini dari Band Perunggu adalah “Berkah Kepala Yang Batu.”
Ada satu kalimat dari buku The Creative Act yang lumayan ngena. Rick Rubin bilang kurang lebih gini: We take all thing for granted. Entah kenapa kita suka banget ngebuat diri kita seolah-olah terpisah dengan apa yang ada di sekeliling kita. Padahal, kita terhubung. Kita terkoneksi dengan tempat tinggal kita, dengan alam, dengan orang-orang di sekitar, dengan hewan-hewan liar, dengan budaya. Kita pasti terkoneksi. Kalau aja kita memandang diri kita sebagai bagian dari satu hal yang lebih besar lagi, pasti semuanya akan terasa berbeda.
📸 Foto-foto Belakangan Ini:











