DAY 1 ROADTRIP BALI - JAKARTA!
First stop, Malang!
__
Aaaakkkkk! Akhirnya ada waktu juga!
Padahal niatnya mau update setiap malam, tapi apa daya ternyata semua terjadi begitu cepat, Bung. Gue cuma sempat menulis di buku catatan dengan tulis tangan, tapi gak keburu buat diketik dan ditaroh di sini.
But, hey, sekarang ada waktu.
Jadi, mari kita mulai.
Gue sampai Malang pukul setengah empat pagi. Ya, Anda tidak salah. Untung aja gue berangkat naik Juragan 99. Jadilah bisa istirahat di Garasinya… walaupun sendirian, sih.
Pukul setengah enam, karena bingung (belum ada kendaraan, belum bisa check ini), gue cari-cari di TIkTok dan menemukan sebuah fakta: ada coffeeshop yang buka 24 jam! Namanya Arah Coffee Gunungan Malang. Langsung saja gue cuskan dan kaget karena tempatnya bagus banget! Bersih, terawat, luas. Cuma ada beberapa meja di bagian outdoor yang terdapat sisa-sisa abu rokok.





Di sana gue baca buku sambil mesen Aero Berrycano dan roti yang ternyata enak juga! Makin kaget. Hohoho. Kirain tempat ngopi gaya-gayaan doang. Ternyata kopinya boleh-boleh.
Tempat pertama yang ada di kepala gue begitu ngomongin Malang adalah Akker Koffie. Ini, tuh, tempat ngopi di Batu. Tapi, yang bikin gue kebayang-bayang bukan tempatnya, atau rasa kopinya, tapi Mas Tama, pemiliknya.
Ketika ke Malang beberapa tahun lalu, gue gak sengaja ke tempat ini, lalu ngobrol panjang lebar bareng Mas Tama. Gimana perjuangan dia bangun bisnis bareng pacarnya (sekarang udah jadi istri). Gagal, tapi coba lagi, gagal lagi, tapi coba lagi terus. Nangis, berantem, saling nguatin. Dari satu FnB ke FnB lain, sampai akhirnya di suatu waktu yang gak sengaja, ada mbak-mbak yang ngevideoin Akker dan mendadak viral dan rame kayak sekarang. Saat ini, buat Mas Tama, Akker bukan cuma jadi tempat ngopi, tapi jadi semacam ruang bertumbuh. Tanaman-tanaman yang makin lebat ngingetin dia kalau “Oh, iya. Kita udah ada progress-nya ya. Dulu sewaktu bikin Akker, tanamannya masih sedikit dan kecil-kecil.” Dari yang awalnya berkonsep slow bar, sekarang di Akker Koffie ada Apuro (brand pastry istrinya), ada tempat jual merchandise orang-orang yang bekerja di sana, ada tempat menginapnya juga.
Hal lain yang gue suka adalah, Mas Tama gak lupa dengan sekolah. Dia melanjutkan S2, dan suka dengan buku-buku. Katanya sih ke depannya di Akker mau dibuat semacam perpustakaan mini gitu.
Balik dari sana tahu-tahu udah sore aja. Malang mulai gerimis. Setelah check in di SO! Boutique Hostel, gue jalan kaki ke Kayu Tangan. Menikmati Malioboro mini versi Malang.




Terus terang, rasanya jalan kaki di sini tuh enak banget. Jajanan murah di sepanjang jalan, trotoar yang lebar. Apalagi suasana ketika suasana agak gelap dan lampu jalan mulai menyala. Dinginnya Malang, jajanan hangat di tangan. Aduh! Beneran tempat yang cocok untuk disusuri dengan jalan kaki.
__
Setelah dari sana, gue balik ke hostel. Masuk ke kubik kasur kecil bertuliskan 314. Merebahkan badan sambil mengecas handphone. Sore itu di DM Instagram gue beberapa orang minta untuk bikin Play With Stranger. Jadilah sambil rebahan, kami ngomongin itu di grup Whatsapp.
Malamnya gue udah nggak ada tenaga. Udah gak kepikiran cari-cari tempat makan yang seru, atau gimana. Yang ada di kepala gue cuma dua: dekat, dan murah.
Akhirnya gue motoran tanpa arah. Gue pengin cari aja warung-warung sekitar hostel.
Tapi, di antara menyasarkan diri, gue malah ketemu jalan yang dulu gue suka banget: Idjen Boulevard.
Gue ingat betul pertama kali ke sini, gue menginap di daerah sini. Lalu menghabiskan sore dengan berjalan kaki memperhatikan rumah-rumah dan jajan bakso malang. Karena kebawa suasana nostalgia, gue malah jadi muter-muter perumahan sekitar situ sambil ngayal-ngayal tipis. Ini kayaknya daerah yang akan gue pilih kalau punya duit dan pengin tinggal di Malang deh. Masih bisa jalan kaki tanpa langsung kehantam pemotor/mobil, jalanannya bersih, tapi banyak tempat makan dan dekat ke convenience store.
Gara-gara nyasar ngeliatin rumah, gue malah udah kepalang lapar. Gue minggirin motor, buka Google Maps, liat ada apa di sekitar sini… sampai di seberang gue, gue melihat satu plang besar bertuliskan “NASI KULIT MAK IGUN.”
“Nasi kulit? Wah, pasti murah dong!”
Gue langsung mengecek warung itu di Google Maps. Dan emang benaran murah. Seporsi nasi kulit mulai dari 18 ribu. Jadilah tanpa banyak bacot, dengan terngantuk-ngantuk, gue nyeberangin motor dan parkir.
Begitu masuk gue kaget.
Nasi Kulit Mak Igun.
Mak Igun.
Igun.
Ivan. Gunawan.
Fak.
Begitu memasuki warung, foto Ivan Gunawan terpampang segede bagong di tembok-tembok. Gue merasa kejebak, tapi gatau sama siapa. Gue pikir Mak Igun tuh nama standaran. Mirip Sate Ayam Pak Gendut, atau Nasi Goreng Cak Gun, atau… atau SIAPA KEK SELAIN MAK IGUN.
Ternyata aku salah pemirsa.
Jadilah malam itu gue makan nasi kulit… sambil diliatin Ivan Gunawan.
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Baru sampai Jogja dan disambut hujan pemirsaaa! Jadilah hari ini memutuskan untuk ga ngapa-ngapain selain bersantai saja. Hohoho.
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
Menurut lo lebih penting mana: 1) nyari pernak-pernik kayak gelang gitu, atau 2) laundry baju? Setuju. Yang pertama kan?
📸 Foto-foto Belakangan Ini:






__
Ps: Malemnya gue mencret karena nasi kulitnya pedes.






Nasi kulit emang pedes, dan gue pengen banget ke malang. ada dua lokasi untuk target slow living: Bandung, Purwokerto, Malang dan Amed Bali (lah kok banyak)