what if life is a game?
__
Semenjak hidup dengan bikin-bikin sesuatu di internet, entah kenapa jadi sering bersinggungan dengan pemikiran yang menganggap semua ini adalah tentang kemenangan.
“Life is a game,” katanya. “Dan kita harus cari cara untuk memenangkannya.”
Pemenangnya ditentukan dengan siapa yang bisa mendapatkan perhatian paling banyak, atau engagement, atau popularitas, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan angka.
“Gue baru setahun udah segini followers-nya!”
“Cara gue yang lebih works!”
“Kalo mau menang, ikutilah cara-cara begini biar rame!”
Serta berbagai lifehack lain tentang ini dan itu. Tentu, semuanya punya alasan. Saat ini, konten kreator adalah pekerjaan. Dan selayaknya pekerjaan lain, kita semua mesti punya alat ukur. Kita perlu bisa mengecek mana pekerjaan yang berhasil, mana yang terlalu menghabiskan biaya. Karena dengan begitu, kita bisa menjalani pekerjaan konten kreator ini dengan lebih untung.
Tanpa gue sadari, pemikiran kayak gini juga gue temukan di tahun-tahun gue bekerja kantoran dulu. Ada yang memilih untuk pindah kantor setiap tahun karena menurutnya, itu adalah lifehack supaya gajinya meningkat dengan lebih cepat. Ada juga yang melakukan pendekatan-pendekatan politik di kantor untuk mendapat keuntungan tertentu. Baik di dunia konten kreator maupun kantoran, semuanya mengejar kemenangan versinya masing-masing.
Tidak bisa dipungkiri, tidak ada satupun di antara kita yang ingin hidup sebagai pecundang. Kita ingin jadi pemenang.
But, at what cost?
Orang-orang yang hidup mengandalkan karya seperti gue, tidak akan pernah bisa memisahkan kehidupan pribadi dengan hal-hal yang gue buat di internet. Pengalaman yang gue rasakan, kepatahhatian, petualangan, lagu dan film yang gue konsumsi, gaya hidup dan rutinitas, semuanya saling mempengaruhi. Maka, begitu fokusnya “membuat karya viral dan mendapatkan angka besar”, rutinitas gue akan berubah, buku bacaan gue akan berubah, dan koneksi gue akan berganti. Pertanyaannya, sejauh apa perubahaannya? Apakah perubahan-perubahan itu rela gue bayar?
Dan sebuah pertanyaan lain: Kalau hidup ini adalah game, maka game apa?
__
Di halaman pembuka buku Cerita-Cerita Kecil Untuk Hidup Yang Besar, gue menulis kalimat seperti ini:
“Gue pikir dunia ini tempat bermain sebebasnya.
Lah, ternyata iya.”
Sejak beberapa tahun belakangan, gue tidak lagi memikirkan masa depan terlalu jauh. Sebaliknya, gue justru memprioritaskan day to day. Apakah gue menikmati hari-hari yang gue jalani sejak bangun tidur sampai kembali ke kasur? Apakah gue punya alasan kuat untuk bangun tidur dan menjalani hari tanpa merasa terbebani?
Gue belajar untuk tidak mengkhawatirkan masa depan sampai overthinking dan mengorbankan diri sendiri di saat ini. Kan ada, tuh, orang yang selalu bilang melakukan sesuatu demi masa depan, sampai-sampai menjalani hari yang ia tidak suka. Cemberut sepanjang jalan, mengeluh sewaktu bertemu teman-temannya. Nah, gue tidak mau jadi orang yang seperti itu.
Gue tidak mau bangun tidur dan hal pertama yang gue lakukan adalah mengeluh karena harus menghadapi kehidupan yang tidak pernah gue pilih.
Buat gue, kata kerja keras bukan seperti itu. Kerja keras bukan soal mengorbankan diri. Bukan membiarkan diri kita tersiksa, menderita, dan mengutuki hidup for the sake of masa depan. Kerja keras adalah soal melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Ada banyak orang di luar sana yang bekerja sampai pagi demi menyelesaikan mural di tembok kliennya. Ada juga yang bangun terlalu pagi karena harus mengirimkan hasil revisinya siang nanti. Ada orang-orang yang tidak punya waktu nongkrong karena harus fokus dengan apa yang ia kerjakan. Mereka semua bekerja sungguh-sungguh, juga bercapek-capek dan berkorban, tetapi tidak mengutuki hidupnya sendiri.
Mereka menerima yang mereka lakukan, meski pada perjalanannya, mereka juga bekerja keras.
Kenapa mereka bisa begitu?
Karena mereka tahu caranya bersenang-senang.
Orang yang bersenang-senang tidak sama dengan orang malas. Jika dilihat dari luar, mereka memang mirip seperti orang pada umumnya. Selayaknya orang normal yang bekerja biasa saja. Tetapi, ketika mengenalnya lebih jauh, kita tahu bahwa ada energi yang berbeda di dirinya. Mereka bisa menemukan kesenangan di antara hal-hal berat yang ia kerjakan.
Jadi, kalau hidup ini adalah permainan, satu-satunya jenis permainan yang cocok adalah open world game.
Dunia ini bukan petualangan dengan satu final boss. Bukan juga tonjok-tonjokan antar karakter. Dunia ini bergerak, dinamis, tetapi juga gitu-gitu aja. Kayak Roblox, Minecraft, atau GTA. Justru karena dunia ini adalah open world game, maka pemenangnya tidak lagi ditentukan oleh angka.
Kalau hidup ini sama kayak main open world game, maka satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah… having fun.
Bersenang-senang.
Ya. For the sake of bersenang-senang, di dunia ini lo boleh memasukkan handphone ke saku sebelah kiri. Mengenakan jam di tangan kanan. Memotong kue dengan bentuk apapun selain kotak. Lo boleh dengerin lagu dangdut. Boleh berdansa dan meluapkan energi di kamar kos. Boleh melukis dan bergaya selayaknya Picasso. Boleh mencorat-coret kaos dan berpakaian seperti yang lo mau. Boleh bersepeda. Boleh bengong. Boleh cringe. Boleh melakukan kesalahan. Boleh mengecat rambut, atau memotongnya jadi botak. Boleh menyalakan kembang api. Boleh menulis puisi. Boleh hujan-hujanan dan berpelukan setelahnya. Boleh menggenggam tangan orang yang lo sayang. Boleh lomba lari tanpa alas kaki sama temen-temen. Boleh tiduran di rumput dan ngeliatin bentuk-bentuk awan. Boleh bikin permainan sendiri kayak berjalan tanpa kena batas ubin, atau menendang batu setiap lo melangkah, atau mencoba jatuh cinta lagi. Lo boleh membuat kastil dari bantal. Lo boleh bersenang-senang sebebasnya, sepuasnya. Sendirian, atau bersama siapapun.
Karena yang menang di dunia ini, sayangnya bukan mereka yang mempunyai angka paling banyak, tapi yang lebih sering bersenang-senang.
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Lagi main Heartopia! Seru abis! Ayo yang main juga add gue dong. Hehehe.
Setelah sekian lama main bulutangkis lagi dan, besoknya paha pegel-pegel.
Sempat ke Karang Boma di Uluwatu dan buset anginnya kenceng abis! Balik-balik perut kembung gara-gara masuk angin.
Nulis tentang “seni ada di mana-mana” sewaktu ke Sanur hari sabtu kemarin. Tulisannya udah gue posting di Instagram.
Ke Pantai Kutikan di daerah Tanah Lot. Bagus banget tempatnya, walaupun cuacanya mendung dan sunsetnya ketutupan.
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
Minggu depan gue akan cabut dari Bali dan bertualang keliling Jawa. Kayaknya butuh bantuan lo untuk numpang deh. Gue mau nyoba cuma bawa satu ransel backpack.
📸 Foto-foto Belakangan Ini:











