Ternyata, nggak ada yang sia-sia.
untuk juli, yang kemarin, dan sampai kapanpun.
__
“Bulan ini rasanya cepet banget ya?”
Gue kemarin melamun dan, entah gimana, pertanyaan ini muncul.
Pertanyaan ini datang di hari yang kesiangan. Menusuk seperti matahari dan panasnya, pelan-pelan, bikin gue merasa bersalah.
“Gue nggak produktif ya?”
“Gue nyia-nyiain waktu ya?”
“Kok di bulan ini nggak ada hasilnya?”
Gue menutup semua pintu dan jendela, menyalakan AC, meringkuk dalam kamar yang seketika berubah gelap.
Otak gue butuh bahagia, kata salah satu dalam diri gue. Akhirnya gue mengambil handphone, buka TikTok dan doomscrolling.
Seenggaknya dengan begini, gue dapat dopamin. Gue mendapatkan kebaruan. Konten yang berbeda setiap gue scroll, pancaran cahaya dari gadget, notifikasi, DM, apapun yang bikin gue happy.
Hari berubah sore dan gue merasa bersalah, lagi.
Dalam diri gue yang lain, gue merasa harus menjauhi handphone. Gue harus beraktivitas. Harus menjalani hidup, apapun itu definisinya.
Persetan lah anjir baterai handphone yang tinggal 28% ini. Gue buka pintu balkon, merasakan panasnya, berganti baju dan turun.
Gue perlu sepedaan. Bergerak pelan-pelan. Tujuan gue sore ini adalah Pantai Padang Galak.
__
Pagi ini, di tengah-tengah scroll, gue melihat Instagram Story salah satu teman gue dengan fitur “Add You”, berisi 6 foto yang dia lakukan di bulan Juli.
Dari situ gue jadi kepikiran sendiri, lalu, setelah mandi, gue membuka Google Photos dari laptop. Mungkin di sini jawabannya. Mungkin di sini jawabannya, hati gue berdegup, gue mendadak nyengir, dan ada dorongan untuk merayakan apapun namanya momen ini dengan membuat satu gelas kopi dingin.
Gue membuka pintu, jendela, dan buku untuk mencatat. Sebenarnya, apa aja, sih, yang gue lakukan selama bulan Juli kemarin?
Ternyata, banyak.
Setidaknya ada 34 hal yang berkesan buat gue, ketika gue melihat foto-foto asal di layar itu. Dimulai dengan awal bulan gue genuinely happy mengurus Momon dan aquascape, gue menyelesaikan video House of Dena, ketemu temen, pertama kali melihat orang panen semangka secara tidak sengaja, gue journaling di pantai, di tempat Nanda boxing dahulu, menulis tentang cara-cara mengembalikan diri menjadi manusia, gue bertualang ke Singaraja, gue membaca DM orang-orang tentang The Art of Story, ebook yang baru aja gue luncurkan, gue menemukan pantai baru, sempat kejebak di mal karena baterai hape abis dan gabisa bayar parkir karena ga punya kartu ATM, gue bikin komunitas Under The Tree, sampai riset untuk produk clay based dan maksain diri mengejar sunrise sewaktu gerimis.
Gue juga bikin beberapa video dari apa-apa yang belakangan ini coba gue terapin dan resapin: tentang dokumentasi, tentang cara-cara memerhatikan dunia, mulai membaca buku dan menulis puisi lagi.
Memang di antara pengalaman hidup gue di bulan lalu, ada yang nggak langsung berdampak pada penghasilan atau “produktivitas” secara langsung.
Kadang kita merasa there’s nothing special about our life karena hal itu nggak cukup megah untuk diceritakan ke orang lain.
Tapi, mungkin memang tidak semua hal perlu diukur dengan standar produktivitas. Tidak semua hal perlu dijadikan besar dan mewah. Pengalaman-pengalaman itu tetap berarti dan bermakna buat gue. Tetap masuk ke dalam diri gue, dan bikin gue senyum-senyum sendiri kalau inget lagi.
And so, here I said it: ternyata, nggak ada yang sia-sia.
Nggak ada waktu yang gue buang dengan sia-sia di bulan kemarin, dan mungkin, sampai kapanpun, sebenarnya tidak ada yang benar-benar sia-sia. Selama kita hadir untuk hidup kita sendiri.
Much love,
K. 💙
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Semalem nonton mobile legend Onic kalah lawan Team Spirit 0 - 3. Sedih banget.
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
“Lo nggak harus bantu semua orang. Apalagi kalau orangnya nggak mau dibantu.”
📸 Foto-foto Belakangan Ini:









