Sepeda dan Nasi Goreng.
Hari ini baterai gue habis.
Mungkin karena kombinasi kegiatan yang kemarin-kemarin, berdebat dengan ibu tadi pagi, dan obrolan siang tentang ekonomi.
Gue sampai Bintaro Xchange pukul enam sore. Bersiap membuka laptop untuk bekerja ronde kedua, tapi yang terjadi hanya melamun. Gue tidak meletakkan tangan di keyboard. Tidak mengurusi file-file yang ada di harddisk. Gue hanya duduk. Menatap tulisan OPPO di jendela toko depan. Kosong. Capeknya semakin bertambah karena membayangkan gue masih harus bersepeda enam kilo lagi untuk sampai ke rumah.
Lalu, gue menutup laptop dan pulang.
Bersepeda, seperti zombie, dengan lagu di headphone yang tidak gue dengarkan. Gue cuma butuh noise untuk menutupi suara klakson dan knalpot di jam pulang kantor.
Di dekat rumah, keburu lapar, gue berhenti di sebuah gerobak nasi goreng.
Setelah memesan dan duduk, bapaknya melihat ke arah sepeda gue. Matanya berbinar. “ini sepeda jenis apa?”
“Oh?” gue bingung mencari kata agar si bapak paham, dan menjawab, “jengki, Pak.”
“Jengki jaman sekarang ya?” lalu si bapak tersenyum lebar, meninggalkan wajan berisi nasi dan mengelus sadel sepeda. “Bagus ya. Mahal ya?”
Dia bertanya harga dan gue menjawab dan dari situ, kami mengobrol panjang.
Bapaknya memegang besi keranjang belakang dan bertanya tentang apakah bagian belakangnya muat untuk membonceng orang lain dan gue menjawab tidak, kecuali anak-anak dan barang. Si bapak bertanya apakah sepeda ini hasil modifikasi dan gue bilang bahwa gue hanya menambahkan keranjang depan dan lampu untuk bersepeda malam hari. Si bapak bertanya gue pernah membawa sepeda ini ke mana dan gue menjawab di sini cuma Bintaro karena jalan rayanya kurang ramah untuk bersepeda, pertanyaan yang juga ditanyakan tukang ketoprak dua hari lalu. Tapi kemudian gue cerita soal Bali, soal hal-hal yang gue lakukan di sana, lalu si bapak bercerita soal sepedanya. Bahwa ia juga punya sepeda sejenis. Dia bercerita bahwa pada zaman Soeharto, setiap sepeda punya plat nomor, dan itu berarti sepeda dianggap sebagai kendaraan yang kalau parkir harus bayar. Semakin larut obrolan kami, si bapak semakin tidak berkonsentrasi memasak. Ia bolak-balik badan antara wajan dengan sepeda gue. Matanya membulat, nada bicaranya excited, seolah sepeda ini hal yang menakjubkan untuknya, yang mengingatkannya pada hal-hal yang membuatnya bahagia. Yang membuatnya jatuh cinta dengan dirinya sendiri.
Lalu satu piring penuh nasi goreng sudah ada di meja. Porsinya banyak sekali. Entah memang ini yang normal, atau hasil dari ketidakfokusan si bapak. Tapi yang jelas, setelah dari sana gue penuh.
Gue penuh sekali.



