Rumahku Belum Ada Bangunannya, Tetapi Aku Sedikit Suka.
yang gue rasakan saat bersepeda tadi pagi.
__
Di tengah bersepeda tadi, kayak ada yang mau muncrat dari dalam tubuh gue. Padahal gue masih ngantuk dan sengaja cuci muka dengan matahari. Padahal gue cuma ke Indomaret Point untuk beli roti tawar dan kopi sachet murahan.
Tapi kayak ada yang mau meledak.
Gue menggowes lebih pelan. Menikmati pukul sembilan pagi di hari kerja menuju kos. Menikmati hangatnya matahari yang menimbulkan titik-titik keringat di punggung.
Sampai kamar, gue duduk di depan meja laptop. Ada rasa yang harus gue keluarkan. Tapi, gue tidak tahu namanya. Matahari menembus jendela di sebelah meja. Menembus ke dalam aquarium yang membuat pantulan cahayanya menari di dasar air. Gue membuka jendela, lalu anginnya berhamburan masuk. Meniup daun-daun kecil monstera di gelas kaca.
Gue menyantap roti. Lagu-lagu bergantian mampir dari headphone yang gue pakai sejak sepedaan. Pikiran gue ada soundtrack-nya.
Setelah mencuci piring bekas makan, gue memasak air, gue menyeduh kopi.
Dan gue menangis.
Gue menangis sampai pipi gue basah dan kering lagi dan menulis ini.
Di tengah bersepeda tadi, gue sempat bertanya kenapa gue bahagia melakukan ini. Bahagia bersepeda sambil mengantuk, ke Indomaret Point, mencium aroma roti shift pagi yang menguar dari oven. Bahagia keringatan dan kulit menghitam disengat matahari. Bahagia bisa berpikir dengan musik dari headphone sebagai latar panggungnya.
Di umur segini, banyak hal yang gue belum punya dan raih. Tidak ada pencapaian karir yang bisa gue banggakan. Gue belum punya benda yang disebut rumah. Tidak punya kendaraan selain sepeda berkeranjang ini. Bahkan tidak punya perlengkapan videografi canggih seperti banyak creator besar lain.
Ketidakpunyaan gue terhadap hal-hal itu, serta berbagai target yang belum tercapai ini sering bikin gue stres. Tidak bisa bohong, meski gue mencoba baik-baik saja, suara-suara soal kegagalan dan ketidakpantasan itu suka muncul.
Tapi, pagi ini rasanya aneh.
Gue tiba-tiba fokus pada apa yang gue punya dan mengabsennya satu per satu. Gue punya waktu untuk sepedaan pagi-pagi sambil mengantuk. Gue punya kesempatan untuk mencium aroma roti yang bikin lapar. Gue punya uang untuk membeli sarapan. Gue punya kerang yang dikumpulkan dari pantai yang tidak tahu namanya. Gue punya kamar yang jendelanya menghadap timur. Gue punya linen spray yang baunya membawa hutan ke dalam selimut. Gue punya parfum dan jam tangan. Gue punya keinginan untuk mencurahkan ini menjadi 4 puisi dan 3 halaman Google Docs. Gue ternyata punya banyak sekali. Gue diperlihatkan banyak sekali. Gue diberi banyak sekali.
Buat gue sekarang, hal-hal ini adalah batu bata dari rumah gue. Mungkin untuk saat ini, rumah gue belum ada bangunannya. Tetapi gue selalu bisa pulang ke sini. Ke apa yang gue punya. Ke perjalanan dan pengalaman gue selama ini. Ke diri gue sendiri.
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:


