malam ini aku kembali ke rumah sakit.
__
Belakangan ini bapak sering muncul. Sewaktu aku naik motor. Di pinggir lapangan bulutangkis. Di waktu-waktu kosong istirahat bekerja. Ia datang dengan jelas. Dengan selang rumah sakit yang menempel di hidung. Dengan bunyi pendeteksi detak jantung yang biasa kulihat di sinetron-sinetron. Dengan dingin AC ruangan yang membuatku menggenggam tangannya yang ternyata, tidak kalah dingin.
Saat itu, aku pikir aku sudah siap.
Tidak ada tangisan yang meraung-raung. Aku hanya mengatur napas. Melihat ibu tergeletak di sebelahnya. Setengah duduk. Napas memburu. Berucap istighfar berulang-ulang. Aku tahu ibu tidak terima dengan ini. Aku tahu apapun masalah yang pernah terjadi di antara mereka, di momen ini, ibu cuma ingin bapak sembuh dan pulang ke rumah.
Tetapi bapak tidak bergeming. Dan berkebalikan dengannya, aku hanya berdiri. Berusaha tegar. Menahan air mata yang keluar. Aku tidak ingin menatap wajah bapak karena tahu, di masa depan nanti, aku akan mengingat ini dengan jelas. Aku akan mengingat bau cairan pembersih dan obat-obatan yang memenuhi ruangan ini. Aku akan mengingat dua suster di belakang yang berbisik tentang apa yang akan terjadi dalam beberapa menit lagi. Aku ingat ketika akhirnya susternya datang, meminta ibu membimbing Bapak ke hadapan Tuhan, tetapi ibu malah menjerit, “Allah! Allah! Allah!”. Aku ingat betul momen canggung itu. Ketika kedua suster itu ingin mengoreksi ucapan ibu yang malah kayak Ruben Onsu kalo dikagetin.
“Laa illaha illallah, Bu. Bukan Allah! Allah! Allah!” bisik si suster akhirnya.
Ibu kemudian:
“Allah! Allah! Allah… oh iya salah. Laa illaha illallah! Laa illaha illallah! Laa illaha illallah!”
Lucu bagaimana di momen paling mengharukan sekalipun, Allah masih memberiku komedi.
Lalu Bapak mengembuskan napas terakhir. Alat-alat dilepas. Aku keluar kamar. Berjalan di lorong rumah sakit dengan kepala berat. Mungkin ini yang dirasakan orang-orang yang kebanyakan minum. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Aku lega tetapi juga merasa bersalah karena merasa lega. Aku lega karena tahu ini akan terjadi, karena hari-hari paling menyedihkannya adalah hari-hari di dalam rumah, ketika menyaksikan kondisi fisik bapak yang berangsur-angsur menurun.
Sekarang, setelah semua ini terjadi, aku harus apa?
Aku tidak tahu caranya berduka karena bapak selalu mengajariku untuk kuat. Seburuk apapun hal yang terjadi.
Bapak memang bukan orangtua yang sempurna. Ada kata-kata dan perbuatan yang sampai sekarang masih membekas. Masih membuatku marah dan sedih dan bertanya-tanya. Ada luka dan trauma yang beberapa bagiannya belum kering. Tetapi, bapak tetap bapak. Ia mengajariku matematika. Mendorong sepedaku dari belakang. Mengajakku bermain bulutangkis di depan rumah. Ia adalah gambaran tentang bapak-bapak yang sangat bapak-bapak. Pergi bekerja dinas di luar kota. Pulang setiap dua minggu atau satu bulan. Dengan kresek berisi martabak di depan gerbang yang selalu kutunggu. Di masa kecil, kupikir semua bapak hidup seperti bapak dan, di masa depan nanti, aku akan menjadi bapak-bapak yang seperti bapak.
Aku ingat di 2019, Bapak mengajakku mengobrol empat mata di kursi teras. Lalu kami bercerita tentang hidup masing-masing. Tentang kehidupan bapak semasa sekolah dan kuliah. Tentang apa yang ingin aku kerjakan. Tentang masa depan. Tentang hal-hal yang jangan sampai ibu tahu.
Kalau aku ingat lagi, itu adalah momen ketika bapak paling bukan bapak. Bapak yang hangat. Bapak yang mau mendengar. Bapak yang hadir sepenuhnya.
Bapak yang paling kubutuhkan.
Malam ini bapak datang di tengah-tengah tidur. Malam ini aku bangun dan ingatanku membawaku kembali ke rumah sakit.
Malam ini dadaku sesak.
Entah karena mengingat luka-luka yang bapak bawa,
atau karena di malam ini, aku cuma ingin peluk bapak.

