kok jadi lebih suka di luar gini?
Sori postingan selingan. Entah kenapa merasa ini lebih penting untuk gue bahas duluan sebelum lanjut ceritain DAY 2 Roadtrip Bali - Jakarta.
Notes: Gue menulis ini 3 hari setelah sampai rumah.
__
Akhirnya nyobain juga sepedaan di Pamulang. Belum terbiasa karena baru gue sadari, jalanan di depan Superindo lebih lebar daripada jalanan Hayam Wuruk. Dan itu artinya, lebih banyak orang sinting yang siap menyerempet gue sampai nyundul aspal.
Satu fakta yang baru gue tahu: jarak ke markas tempat gue kerja di sini (which is tempat ngopi di Bintaro), sama dengan dari kosan di Bali ke Sekolah Morphoo. Alias hampir ke Pantai Batu Belig. Alias dari Pamulang ke Graha Raya Bintaro sama dengan dari sisi timur Denpasar sampai ke ujung barat mentok ke laut. Apa tidak mati saya, Bung?
Belum lagi udara di sini yang lebih lembab dan cuaca BULAN HUJAN GINI. Mudah-mudahan gak dapat pengalaman lagi bawa laptop terus kena badai aja sih.
Fakta lain yang gue dapatkan setelah bolak-balik Bali adalah, sekarang gue lebih seneng outdoor. Ya, ketika mencari kafe untuk bekerja dan menulis ini, alam bawah sadar gue menghapus opsi-opsi kafe yang full indoor. Aneh. Karena dulu gue orangnya tertutup, indoor banget, lebih suka sendirian dan mending gak liat manusia sama sekali. Tapi setelah bolak-balik satu tahun di Bali gue sadar, manusia seharusnya lebih banyak di luar. Secara anatomi pun kita diciptakan untuk lebih banyak hidup di luar. Kita butuh matahari pagi. Tulang dan kaki kita butuh berjalan. Mata kita perlu memandang objek-objek jauh. Tumbuhan dan udara segar juga adanya di luar, dan itu memperpanjang umur kita.
Tapi, peradaban kampret ini memaksa kita untuk lebih sering hidup di dalam.
Untuk diam di ruangan ber-AC yang dingin dan nyaman. Untuk terkungkung pada kesendirian dan tidak ketemu orang lain. Untuk menutup mata dari kerusakan-kerusakan di luar. Untuk tidak terbiasa dengan perbedaan-perbedaan kebiasaan, ide, karakter, budaya, dan lainnya, dan lainnya, yang lebih mudah ditemui kalau kita pergi keluar.
Masalahnya adalah, ketika gue kembali ke Jakarta (Tangerang Selatan tepatnya), dunia outdoor diisi oleh orang-orang โnongkrongโ. Udara bersih dikuasai pabrik-pabrik, asap bakaran sampah, knalpot kendaraan, dan asap-asap perokok. Mau gak mau, gue jadi dipaksa untuk kembali ke dalam ruangan. Sendirian. Mengkhayal tentang hal-hal yang ada di luar.
Rasanya emang aneh sih. Gue pikir tadinya hidup di dalam ruangan bikin kita jadi lebih gampang terkoneksi satu sama lain. Semakin sempit lingkaran pergaulan kita, semakin gampang kita berkomunikasi satu sama lain kan? Ternyata nggak juga. Dibanding menyapa orang di meja sebelah, sejauh pengalaman gue, jauh lebih gampang mengobrol dengan orang asing di sebuah air terjun random, atau tukang mie ayam, atau bapak yang baru pulang kerja lalu beristirahat sebentar di meja luar indomaret, menunggu pikirannya yang masih hujan sebelum lanjut jalan lagi.
Sadar nggak sadar, semakin dewasa, dunia kita dipisahkan meja-meja di tempat ngopi.
Yah, mari kita liat apa yang akan terjadi selama satu bulan ke depan. Gue masih akan di Jakarta sampai setidaknya lebaran tahun ini. Mari kita kuras energi kreatif untuk beradaptasi dengan yang begini-begini. Hohoho.
Btw, ini kenapa ujungnya jadi serius gini ya? Padahal niatnya cuma pengin curhat kalau udah pulang aja. Hehehe.
Anywhooo, lo pada apa kabarrrr woooyyyy?
*brb lanjut nulis DAY 2 Roadtrip*
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
๐ Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Rakit sepeda karena udah sampe rumah! Hohoho. Tapi ternyata masih ada beberapa setelan yang kurang enak
๐ง Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
Baru tahu kalo harga pelumas rantai sepeda mahal anjrit! Gue pikir 20 ribuan, ternyata sampai 50 ribu! Faklahhh mending ke bengkel minta oli bekas gasih?
Kalau aja apel yang lo makan berasal dari bibit yang ditanam di perkebunan Bapak-bapak berkumis di Jawa Timur, dan hujan yang kena kulit lo sewaktu lo paksain terabas itu asal muasalnya Samudera Hindia, kenapa kita mesti khawatir? Yang akan datang ke kita, pasti bakal datang ke kita. Gimana pun caranya. Dari manapun asalnya. Ya gasih?
๐ธ Foto-foto Belakangan Ini:








