Kenapa The Art of Story?
curhat industri kreatif di internet dan bagaimana itu mengubah manusia menjadi zombie.
__
Tidak pernah terbersit sedikitpun di kepala gue untuk membuat sesuatu kayak gini.
Sejujurnya, ini bukan sesuatu yang gue banggain, tapi ternyata, gue butuh.
The Art of Story akhirnya terbit juga.
Buku yang membahas soal seni bercerita. Di dalamnya, kamu akan menemukan bab-bab tentang apa itu esensi cerita, memahami bagaimana cerita yang satu lebih berkesan dibanding yang lain, dan menjalani hidup sebagai kreator… yang juga manusia.
__
Banyak di antara kita yang sekarang, pelan-pelan, berubah menjadi zombie. Kita lelah. Burn out. Beberapa di antara kita menyerah menjadi manusia dan tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Faktornya ada beberapa. Trauma masa lalu, teknologi yang tanpa kita sadari membuat kita doom scrolling dan membusuk di kasur (dan berakhir jadi makhluk kesepian), dan, tentu saja, kebijakan-kebijakan politik. Kita menjadi zombie karena salah satunya, atau bisa jadi gabungan ketiganya.
Buat gue, ini kelihatan banget dari perilaku orang-orang di internet. Berapa banyak di antara kita yang sering mengenang kreator zaman dulu?
Kita rindu masa-masa itu. Ketika internet adalah tempat pelarian dari dunia nyata. Sebuah taman hiburan untuk kita bisa bersenang-senang, berinteraksi, dan tertawa bersama teman-teman dunia maya kita.
Sekarang, internet bukan lagi pelarian. Kita sudah tinggal di internet. Kita tidak mau bertanya ke orang ketika nyasar dan memilih untuk meminggirkan kendaraan dan membuka Google Maps, curhat centil berganti diskusi ChatGPT, dan mereka yang mengatur arah angin internet, influencer itu, content creator, dan lainnya, dan mereka semua, berlomba-lomba menjadikan internet sebagai tambang mata pencaharian.
Gue tentu tidak bilang bahwa influencer sepuluh tahun lalu tidak mencari uang dari internet.
Of course they do that as well.
Tapi lihat bagaimana kita berlomba-lomba untuk mengeruk keuntungan di internet sekarang. Di tempat kita tinggal. Kita ada begitu banyak. Saling berebut perhatian dengan cara apapun, setiap hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Ada berapa banyak akun yang diotomatisasi dengan AI, membuat setiap postingan dirancang untuk menarik atensi kita based on historical data search kita di internet. Ada berapa banyak orang yang meng-capture postingan dari satu media sosial, lalu diposting di media sosial lain for the sake of virality. Ada berapa banyak yang copy paste? Ada berapa banyak yang mencari template hook viral, yang menyibukkan diri dengan engagement, dan followers, dan hal-hal seperti itu.
Kita semua korbannya.
Sebagai pengguna, psikologis kita diserang. Kita dibuat merasa bahwa setiap konten itu penting. Dalam beberapa scroll, kita merasa harus tahu speaker bluetooth keluaran terbaru, lalu diminta untuk datang ke tempat tertentu, lalu disalahkan atas cara-cara kita menyikat gigi. Kita bahkan takut untuk benar-benar terhubung. Kita mencari cara menghindar satu sama lain di media sosial. Itu sebabnya kita membuat second account atau third account.
Dari sisi pekerja kreatif dan pembuat konten, pelan-pelan kita lelah karena kita menggantungkan hidup pada satu sosok absolut bernama algoritma.
Para pekerja kreatif, mereka yang mencintai seni, adalah orang yang hidup dari menghisap dirinya sendiri. Mereka membuat sesuatu dari potongan pengalaman diri, atau pendapat, atau insight, yang mereka temukan selama hidup. Jika tidak menjaga dirinya, lama-kelamaan seorang konten kreator akan menjadi kering.
Dan bukan tidak mungkin, sebagai manusia, kamu merasa hampa dan kosong. Kamu akan merasa bersalah. Kamu akan benci pada hidupmu sendiri.
Buku ini gue buat untuk itu.
The Art of Story gue buat sebagai pengingat dan cara-cara agar konten kreator, storyteller, atau orang yang bergelut di dunia kreatif dan seni bisa kembali menjadi manusia di tengah kondisi internet yang begini adanya. Sebagai panduan agar kita tetap waras, tetapi mampu menghasilkan sesuatu yang indah dari hidup kita.
Sejujurnya, gue kurang suka membuat buku How-To kayak begini karena gue rasa, banyak yang jauh lebih kredibel, berpengalaman, dan profesional untuk bikin ini.
Tapi kegelisahan gue udah di puncak kepala.
Gue ingin menulis sesuatu yang ingin gue baca ketika gue sedang mode plenger. Yang memandu gue sendiri sebagai konten kreator. Yang membuat gue merasa optimistis.
Kalau boleh jujur, konsepnya ada campuran antara The Creative Act-nya Rick Rubin yang muahal itu, Creative Writing-nya A.S Laksana, tetapi di dalamnya gue juga membedah proses kreatif beberapa karya gue. Mungkin di hari-hari ke depan, gue juga mau membagikan deck yang gue pakai ke brand-brand selama ini, serta cara melakukan approach-nya. Supaya tetap bisa punya bargaining power meskipun tidak punya follower sebanyak itu.
Jadi, kalau kamu ingin atau sedang mencoba menjadi konten kreator, storyteller, pekerja kreatif atau hidup dari seni dan membutuhkan cara-cara bercerita, di luar viral-viralan ini, link untuk bacanya ada di bawah:
Gue Kresnoadi
please, be more human. 💙



