Hari Terakhir Bersepeda (Good In Goodbye.)
hari terakhir gue bersepeda adalah hari ketika matahari dan gerimis turun bersamaan.
__
Hari terakhir gue bersepeda adalah hari ketika matahari dan gerimis turun bersamaan. Situasinya aneh. Di antara celah pepohonan taman sebelah kiri, matahari sore terlihat jelas. Hawanya panas dan lembab. Tapi gerimis datang berkali-kali. Gue berteduh ke bawah pohon.
Semuanya, orang-orang di sekitar gue, tampak biasa saja.
Tiga anak kecil berseragam hijau itu masih sibuk dengan bolanya. Para pemain skate di skatepark itu juga meluncur, bergantian melakukan trick. Biasa saja. Di pinggir lapangan, orang-orang dengan pakaian olahraga berlari salip-menyalip. Di mata gue, mereka semua tampak baik-baik saja.
Begitu juga gue.
Gue pasti terlihat biasa saja.
Gue pasti terlihat biasa saja, walaupun ini hari terakhir gue bertualang selama satu tahun penuh di Bali. Di antara ratusan orang di sini, gue pasti sama seperti mereka. Terlihat biasa saja walau kenyataannya, tidak ada yang pernah benar-benar tahu.
Sudah tiga puluh detik semenjak gue menyalakan kamera, tetapi gue kehabisan kata-kata. Bingung ingin menyampaikan apa, dan justru meracau tentang hal-hal random. Gue bilang bahwa daerah yang paling tidak gue suka di Bali adalah Canggu dan Ubud. Sementara yang gue suka Sanur dan Renon. Kalau punya banyak uang nanti, mungkin salah satu cita-cita gue adalah membeli rumah di antara kedua tempat itu. Bali selalu menjadi tempat yang spesial di hidup gue. Ada begitu banyak pengalaman, cerita, dan perubahan semenjak pertama kali gue datang ke sini tahun 2021. Setelah beberapa kali bolak-balik, satu tahun terakhir gue mencoba hidup di sini, berbaur menjadi penduduk, melihat sisi yang tidak dilihat turis dan traveler. Dan itu rasanya kayak mimpi.
Sekarang, setelah semua pengalaman ini, di badan gue ada satu tombol switch baru. Tombol untuk mengeset mode diri sendiri menjadi penduduk, turis, atau traveler. Gue bisa menekan tombol dan berubah menjadi penduduk yang tergiur untuk berkelana, untuk merasa cukup dengan yang dipunya. Untuk bertualang meski hanya di kamar sendiri. Di waktu yang lain, menekan tombol turis berarti saatnya memperhatikan hal-hal baru. Mode aware. Seperti turis pada umumnya yang gampang kagum dengan hal-hal yang, bagi penduduk setempat, terlihat normal dan biasa saja. Para turis tidak take it for granted. Sementara menekan mode traveler artinya gue siap untuk menghadapi ketidakpastian, ketakutan, dan ketidaknyamanan. Traveler mengizinkan dirinya untuk menerima hal-hal baru, sekaligus memperbarui dirinya sendiri. Untuk beradaptasi dan berkembang. Untuk tidak terpaku pada tempat-tempat estetik, tetapi juga manusia yang ada di sana. Untuk berempati. Untuk hidup sepenuhnya.
Sekarang, setelah satu tahun petualangan gila ini, gue bisa menggunakan salah satunya, atau menyalakan ketiganya sekaligus.
Ternyata benar kata orang. Traveling membuat kita kaya. Bukan dengan uang, tetapi hal-hal lain yang ada di dalam diri kita sendiri.
Tapi, waktunya datang juga.
Inilah endingnya.
Anehnya, ending kali ini tidak membuat gue sedih. Tentu ada perasaan kecewa karena semua ini harus berakhir. Tapi, munculnya matahari di tengah hujan ini benar-benar mengingatkan gue bahwa mungkin, perpisahan tidak melulu identik dengan isak tangis, penyesalan, atau pilu membiru.
Gue justru lega karena selama satu tahun ini, gue sudah memberikan semuanya. Waktu, energi, uang. Dan cinta. Gue sudah melakukan semua yang gue bisa untuk merasakan pengalaman yang gue inginkan, atau yang datang sendiri ke hidup gue. Mungkin ini alasannya ada “good” dalam “goodbye”. Kata “selamat” dalam “Selamat tinggal” adalah tanda bahwa kita merayakan pertemuan. Kita merayakan usaha-usaha yang kita lakukan dalam merasakan pengalaman yang kemarin. Kata “selamat” adalah pelukan untuk waktu yang sengaja kita luangkan bersama-sama.
Saat ini tidak ada perasaan mengganjal karena belum sempat ke sini dan situ. Tidak ada kata-kata yang belum tersampaikan. Tidak ada unfinished business dan penyesalan karena di hari-hari yang gue jalani kemarin, gue mencoba living in my best dream.
Tahun ini gue akan mencoba hal baru lagi. Gue ingin fokus dengan karya-karya offline. Karya yang bisa dinikmati tanpa harus menggunakan internet. Karya yang bisa membuat kita ketemu untuk membicarakan sesuatu. Kayak, seru ga sih?
__
Dan dalam rangka merayakan ulang tahun gue, malam ini gue akan pulang dari Bali menuju Jakarta lewat jalur darat. Gue mau coba pindah dari kota ke kota sambil menemukan berlian-berlian di tanah jawa. Hohoho. Mari kita bertualang dan temukan harta karun itu, kawan!
__
UPDATE:
Ternyata ga ke-posting bjir!
Gue menulis ini ketika sampai di pool bis Malang! Kepagian abis dan berhubung gatau mau ngapain, jadilah gue buka laptop sendirian kayak orang pinter. Kalau ada orang Malang yang liat ini, numpang plis. Huhuuhuhhuh.
Gue Kresnoadi,
cheers!
__
Kalau suka karya gue dan mau bikin gue rajin ngepost, bantu support dengan klik ini:
📝 Yang Gue Lakukan Belakangan Ini:
Packinggg karena sejam lagi gue akan pulang! Hohohoo.
🧠 Yang Gue Pikirin Belakangan Ini:
FAK BARU AJA NGEBUS DARI BALI KE MALANG, KARET TUMBLER GUE ILANG?! Mudah-mudahan gak ada yang ilang lagi dah. Huhuhuhu.
📸 Foto-foto Belakangan Ini:











